Selera Musik

MJ adalah Maestro penyanyi sekaligus King of Pop. Rujukan bagi penggemar musik berselera tinggi.

MJ adalah Maestro penyanyi sekaligus King of Pop. Rujukan bagi penggemar musik berselera tinggi.

Akhir-akhir ini saya jadi sering berkomentar tentang musik. Apakah itu berupa komentar tentang penyanyi, jenis musik, hingga lagunya itu sendiri. Yap, musik memang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sebelum manusia belajar berbicara pun, manusia sudah mengenal alat musik. Pada jaman purba, alat musik yang mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu dijadikan alat komunikasi bagi sesama manusia. Setiap upacara adat, pernikahan bahkan pemakaman, musik sering diperdengarkan. Tapi saya bukan ingin mengharamkan musik atau menghalalkannya. Yang penting jangan berlebihan terhadap sesuatu sehingga melupakan sesuatu yang lain.

Mendengarkan musik sudah saya lakukan sejak masih balita. Saking sering mendengarkannya, saya sempat bosan dengan lagu anak-anak saat baru masuk jenjang sekolah dasar. Memang, lagu anak-anak sangat cocok untuk perkembangan anak-anak itu sendiri. Apalagi saya dibesarkan di era 90-an, dimana penyanyi anak-anak seperti jamur yang tumbuh di hutan tropis. Tapi seiring umur bertambah, selera musik saya malah lebih cepat berkembang dibanding dengan anak-anak seumuran saya. Ketika kawan-kawan saya lebih suka lagu diobok-obok dan ayo menabung, saya malah pindah channel ke stasiun tv yang menampilkan lagu-lagu pop, rock, dan blues jama tahun 90an. Saat itu lagu dengan genre slow rock dari Malaysia sedang digandrungi oleh pemuda-pemudi Indonesia. Dan anehnya saya juga suka.

Rhoma Irama adalah legenda hidup musik asli Indonesia.

Tetapi jauh sebelum itu semua, saya adalah penggemar Rhoma Irama. Beliau jadi salah satu panutan saya dalam bermusik dan mendengarkan musik. Bukan hanya panutan dalam memilih lagu dangdut, tapi juga dalam mendalami isi lagu. Saya akui gelar Raja Dangdut yang beliau pegang hingga sekarang. Kenapa? karena saya tahu, lagu-lagu beliau jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan lagu-lagu boyband/girlband jaman sekarang. Jaman itu, lagu-lagu berisi kata-kata puitis. Sulit dimengerti oleh anak-anak seumuran saya. Kata dan diksi yang dalam juga saya kurang mengerti. Tapi apa boleh buat, sudah kepalang menggemari, akhirnya saya belajar mendalami lagu-lagu beliau. Saya sempat kecewa dengan perkembangan musik Dangdut yang semakin mundur dalam segi moral dan estetika. Ketika fenomena itu terjadi, dan ketika orang sudah mulai menganggap itu hal biasa, saya sampai sekarang masih kurang sreg untuk mendengar lagu-lagu dangdut jaman sekarang.

Image

Lagu Dewa 19 membuat saya berpikir dua kali untuk mencari arti dari lirik lagu mereka.

Beranjak ke jenjang umur yang lebih dewasa, saya mulai suka dengan lagu dari band-band Indonesia. Kelas VI SD jika tidak keliru, saya mulai melek dengan lagu-lagu karya Ahmad Dhani melalui band Dewa 19 nya. Selera musik lagi-lagi membuat saya mendalami dan menggemari lagu-lagu ini. Selain itu, banyak band-band Indonesia yang mempunyai kualitas dunia dengan selera musik tinggi yang sempat saya sukai, diantaranya GIGI, Sheila on 7, Wayang, dll. Penyanyi solo saat itu juga bermunculan. Dan ketika masyarakat atau lebih aman saya bilang anak-anak seumuran kelas 6 SD, saya punya selera musik agak berbeda dengan kawan-kawan saya saat itu.

Image

Nirvana dengan stage act nya yang luar biasa.

Saat baru menginjak masa-masa SMP saya sempat menggemari selera musik yang biasa-biasa saja. Namun ketika era digital musik diperkenalkan ke masyarakat banyak, saya bisa lebih mengeksplor lagu-lagu berkualitas dari internet. Saat kelas 2 SMP juga saya beruntung bisa diajarkan oleh guru seni musik yang mumpuni. Beliau telah mengajarkan saya bukan hanya membaca not balok, memainkan not balok, membuat nada-nada, hingga men-arransemen lagu pada saat itu. Selera musik saya saat itu lebih banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu rock ‘n roll dan blues. Paman saya yang termasuk penggemar band Nirvana sedikit banyak mempengaruhi saya dalam kegemaran mendengarkan musik. Saat itu saya sering berkunjung ke rumah nenek, dimana paman saya juga tinggal di situ. Saya sering bermain-main di kamar paman saya, meskipun beliau tidak ada. Melihat tumpukan-tumpukan kaset yang banyak, saya penasaran dan mendengarkannya satu persatu. Di saat itulah saya pertamakalinya mendengarkan lagu ber-genre Hardcore dan Heavy Metal. Saya lupa bandnya siapa, karena kaset yang saya putar tidak ada covernya. Tapi di saat itu juga lagu bergenre Heavy Metal membuat saya lebih “melek” tentang musik.

Pada jaman SMP itu pula saya belajar untuk memainkan musik bersama-sama, alias membentu band bersama teman-teman. Karena saya baru belajar bermain musik, saya dan teman-teman memainkan lagu-lagu yang  mudah dimainkan saja. Sempat saat itu saya tampil dalam event bertaraf lokal desa saya. Saat saya dan band saya tampil, baru naik panggung saja kami sudah mendapatkan respon sangat positif. Ya, kami mendapatkan respon positif karena kami satu-satunya band anak-anak SMP yang tampil dalam acara festival band saat itu. Saya ingat saat saya baru menaiki panggung. Tepuk tangan penonton sempat membuat saya agak gemetar. Tetapi ketika musik sudah dimulai, saya menikmatinya dan berusaha tampil sebaik mungkin. Tebak, apa yang terjadi saat saya dan band saya selesai tampil? Mungkin agak berlebih, tapi ini yang terjadi. Kami mendadak terkenal sampai seantero desa kami. Dari anak-anak hingga bapak-bapak selalu menyapa kami dengan nama band kami ketika kami sekedar bermain berkeliling desa kami yang masih asri. Bahkan pak tani yang sedang membajak sawah pun saat itu tahu kalau saya adalah salah satu anggota band yang terkenal di seantero desa kami.

Tahun berikutnya saya dan band memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam acara yang sama. Tetapi respect dari band lain masih kami dapatkan. Alasan kami tidak ikut tampi lagi bukan karena kami bubar, tapi karena saat itu tidak ada lagu yang cocok untuk kami mainkan.

Karena band tersebut sempat vakum, saya dan saudara kembar saya sempat juga vakum mendengarkan lagu-lagu dan musik berkualitas. Tapi tidak bertahan lama hingga saya menginjak semester akhir di kelas 3 SMP. Saya saat itu cenderung menggemari lagu-lagu jadul. Band rock, penyanyi, hingga band heavy metal sempat saya gemari. Saat itu, band yang paling mempengaruhi selera bermusik saya adalah Queen dan Rolling Stones. Entah karena ikut-ikutan teman, tapi kami memang suka lagu-lagu ber-genre seperti itu sejak usia sekolah dasar.

Menginjak SMA, saya baru diperkenalkan dengan lagu-lagu The Beatles oleh seorang teman. Selera musik saya meningkat lagi. Jazz menjadi genre musik paling saya gemari tahun itu. Dari penyanyi baru, hingga penyanyi dan band jaman dahulu yang mempunyai genre jazz sempat saya dengarkan. Lagu berkualitas sekali lagi menjadi tolak ukur bagi saya dalam menggemari sebuah band atau seorang penyanyi. Sempat membuat band dengan teman-teman sekelas, saya sempat beralih menjadi pemain drum dari saat SMP saya seorang pemain bass. Saat itu saya baru sadar, ternyata bermain drum memang lebih mengasyikkan dibanding bermain bass. Hingga saat ini, saya lebih memilih menjadi drummer di sebuah band daripada pemain bass. Musik dari The Beatles menjadi pengaruh terbesar saya tahun itu. Kebetulan saat itu, mp3 musik beredar luas dan gratis di internet. Hal itu menjadikan saya lebih giat dalam mencari dan meningkatkan selera musik saya pribadi.

Image

Michael Jackson membuat saya berubah.

Tahun-tahun berikutnya, saya diperkenalkan dengan lagu-lagu lawas sang Maestro, Michael Jackson. Beliau adalah pengaruh terbesar saya dalam bermain maupun mendengarkan musik hingga saat ini. Bahkan ketika ada penyanyi lain yang menyanyikan lagu beliau, saya anggap itu sebagai upaya bunuh diri. Meskipun tidak semuanya jelek, tapi tidak ada yang bisa menandingi aura seorang King of Pop, Michael Jackson. Kabar meninggalnya Michael Jackson sempat membuat saya syock. Keinginan saya untuk bertemu MJ sebelum beliau meninggal terhapus sudah. Namun hal itu justru memicu saya untuk mendengarkan lebih banyak lagu-lagu beliau dari saat masih bersama Jackson Five, berkarir solo sampai beliau meninggal.

Ahmad Dhani dalam komentarnya sebagai juri di ajang X-Factor Indonesia mengungkapkan bahwa selera musik masyarakat Indonesia perlu diperbaiki. Saya sadar dan setuju usulan tersebut. Kita, masyarakat Indonesia sejak awal tahun 2000an dijejali oleh musik-musik yang menurut saya kualitasnya semakin menurun. Hal tersebut yang membuat saya justru mempunyai tren untuk menggemari lagu-lagu tua. Bahkan hingga saat ini, tren selera musik saya justru mundur dari segi tahun. Jika saat SD saya suka lagu-lagu tahun 90an, sekarang saya lebih suka lagu tahun 60-70an. Benar kata salah satu komika di ajang Stand Up Comedy Indonesia, bahwa sekarang ini selera musik ditentukan oleh pasar. Selain pasar, selera musik lebih banyak ditentukan oleh penampilan fisik yang menawan, meskipun penyanyi tersebut tidak terlalu piawai dalam bernyanyi. Selera musik yang baik dapat meningkatkan kecerdasan dan sensitivitas kita dalam bersosialisasi. Kecerdasan ini penting untuk memajukan bangsa ini. Namun tentunya tidak semua musik berselera tinggi berasal dari luar negeri. Kita, bangsa Indonesia sudah punya musik berselera tinggi sejak jama kolonial dahulu. Jika kita ingin, maka selera musik tinggi itu bisa kita ciptakan kembali di tahun-tahun ini. Itulah selera musik menurut saya. Apa selera musik anda?

Iklan