Gerhana Matahari Total Indonesia

My phone camera barely catch the solar eclipse. Top with help of pinhole technique and down with dark film filter. Happy eclipse, guys! You wouldn’t know if you’re going to have this moment again. Don’t forget to pray, if you are Muslim. Next, I should see total sun eclipse wherever it happen.

View on Path

Iklan

Nuklir di Indonesia

Mendengar kata nuklir, mungkin kita memiliki respon yang berbeda-beda. Ada yang biasa saja, ada yang merinding, bahkan ada yang ketakutan. Mengapa? mungkin karena nuklir atau dalam Bahasa Inggris disebut Nuclear, seringkali dikaitkan dengan bencana dan kecelakaan kerja yang merenggut nyawa orang banyak. Padahal kasus-kasus kecelakaan nuklir tersebut tidak banyak. Tercatat dari seluruh reaktor nuklir di dunia, kurang dari 10 yang mengalami kecelakaan, dan baru 2 yang meledak.

Sebelum berkeliling di BATAN, kami diberi pengarahan dan pengenalan tentang Nuklir

Indonesia, negara kepualauan di sebelah tenggara Asia merupakan salah satu negara yang ikut mengembangkan nuklir dan ilmu pengetahuannya. Terbukti dengan adanya Sekola Tinggi Nuklir di Indonesia yang dibuat dengan tujuan untuk memupuk tenaga-tenaga ahli di bidang nuklir. Dalam sejarahnya, perkembangan nuklir di Indonesia dimulai dari perintah Presiden Soekarno kepada menterinya agar menyelidiki dan memeriksa kadar nuklir di Indonesia. Alasan Presiden untuk memeriksa tersebut adalah karena uji coba nuklir Amerika Serikat di Samudera Pasifik yang memiliki kemungkinan debu radioaktifnya menyebar hingga ke Indonesia. Namun ternyata, setelah penelitian oleh para ahli nuklir Indonesia dan bantuan asing, Indonesia bebas dari debu nuklir uji coba Amerika Serikat tersebut.

Di gedung ini, limbah radioaktif diolah hingga mempunyai residu yang sedikit dengan tingkat pengawasan tinggi.

Para ahli nuklir Indonesia melihat kesempatan penelitian ini untuk mengembangkan nuklir lebih lanjut. Setelah memeriksa debu radioaktif tersebut, para peneliti Indonesia meminta Presiden Soekarno untuk melanjutkan penelitian nuklir tersebut, dan akhirnya disetujui. Kemudian pada tahun 1958 dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 65 Tahun 1958 .Nama LTA dan DTA berubah menjadi BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) pada tahun 1965. Hingga pada tahun ini Indonesia mempunyai 3 reaktor, dengan hanya 2 reaktor yang aktif. Reaktor G.A. Siwabessy merupakan reaktor di Indonesia yang memiliki daya paling besar, yaitu 30MW. Reaktor Triga Mark II di Bandung sekarang sudah dinonaktifkan untuk kepentingan tertentu.

Pengarahan oleh pemandu di Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif

Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Pendidika Indonesia pada tanggal 30 Mei 2012 kemarin berkesempatan untuk mengunjungin reaktor serbaguna dengan daya terbesar, yaitu reaktor G.A. Siwabessy di komplek PP Iptek Serpong, Tanggerang. Saya banyak diberi pengetahuan tentang penggunaan nuklir dan pengolahan limbah nuklir di Indonesia. Salah satu pengetahuan penting yang saya dapatkan dari kunjungan itu adalah, bahwa ternyata Indonesia mampu dan berdaya untuk menggunakan nuklir sebagai penelitian, atau bahkan sumber energi listrik.\

 

Mahasiswa Pendidikan Fisika UPI bergaya di depan gedung Reaktor Serbaguna GA Siwabessy

Di sini, reaktor G.A. Siwabessy sudah pernah digunakan untuk penelitian dan produksi neutron bidang kesehatan. Namun kebanyakan produk dari reaktor ini adalah untuk keperluan penelitian. Bahkan beberapa tahun kemarin, banyak negara-negara asing yang ingin mengadakan penelitian gabungan di reaktor ini. Memang, jika dibandingan dengan reaktor nuklir di Swiss dengan kapasitas 1 Terra Watt, kita tertinggal jauh. Namun reaktor G.A. Siwabessy ini merupakan salah satu reaktor nuklir yang paling produktif di dunia. Dengan pengawasan ketat para ahli, reaktor ini selalu berhasil memproduksi neutron untuk bidang kesehatan.

 

Pengarahan dan Pembekalan sebelum masuk ke ruang Reaktor. Setelah dari sini, kamera dilarang masuk!

Penjagaan dan pengawasan ketat dilaksanakan di sini. Untuk menghindari dan mencegah kelalaian manusia, maka ketika saya masuk ke dalam ruangan reaktor, saya harus menggunakan pakaian lab dan sepatu yang terbungkus sebagai standar keamanan bagi pengunjung. Sayangnya ketika saya berkunjung, reaktor tersebut sedang dijadwalkan tidak aktif memproduksi neutron, sehingga saya tidak dapat mengetahui langsung proses memproduksi neutron.

Pengarahan dan Pembekalan sebelum masuk ke ruang Reaktor. Setelah dari sini, kamera dilarang masuk!

Siapa bilang negara kita tidak mampu? pengolahan limbah nuklir di Indonesia merupakan salah satu yang paling ketat di dunia. Setiap bulan, inspeksi dari Badan Pengawas Atom Nasional sering diadakan. Pengawasan tersebut berkaitan dengan penggunaan reaktor maupun pengolahan limbahnya. Namun sayang sekali, saya tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam ruang reaktor dan sistem pengolahan limbah tersebut. Saya hanya diperbolehkan untuk mengambil gambar dari luar.

Pegalaman saya berkunjung ke BATAN merupakan pengalaman pertama kali. Namun di situ saya sadar, sebenarnya Indonesia sudah mampu mengadakan reaktor untuk keperluan suplai listrik. Beberapa perencanaan untuk mengembangkan PLTN pun diungkapkan oleh Bapak-Ibu pembimbing perjalanan kami selama di BATAN tersebut. Jadi, kita sebagai warga Indonesia sepatutnya mendukung program tersebut. Karena jika tidak, maka ilmu nuklir yang bangsa Indonesia punya akan “mandeg” dan tidak berkembang menuju tingkat yang lebih tinggi.

 

Info lebih lengkap tentang program nuklir yang dilaksanakan Indonesia saat ini. kunjungi www.batan.go.id

Bertanya Kepada Bintang-Bintang

Kita sering mendengar lirik-lirik lagu yang romantis yang berisi kata-kata berkaitan dengan bintang. Seolah-olah bintang-bintang di langit menyimpan misterinya sendiri. Lagu-lagu yang diciptakan manusia memang disesuaikan dengan kondisi perasaan dan tingkat wawasan sang pengarang lagu, namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai lirik lagu.

Bintang-bintang bertaburan di langit.

Perlu diketahui, matahari kita adalah salah satu dari trilyunan bintang yang berada pada jagat raya ini. Hampir setiap bintang mempunyai sistemnya sendiri-sendiri, seperti matahari yang mempunyai system Tata Surya. Planet-planet mengelilingi matahari dengan sangat teratur, tidak bersinggungan, apalagi bertabrakan. Matahari yang menjadi pusat dari system ini memberikan informasi-informasi pengetahuan bagi manusia yang berada di bumi. Dari pemanfaatan energy panas, hingga pemanfaatan cahaya dapat kita lakukan saat ini berkat informasi-informasi tersebut.

Mungkin saat ini kita dapat menikmati manfaat-manfaat dari informasi matahari dengan nyaman. Namun tentunya kita patut bertanya, siapakah yang mengetahui bahwa matahari memberikan informasi berharga tersebut? Bagaimana mereka mengetahuinya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mulai dicari kembali jawabannya oleh para ilmuwan maupun sejarawan. Para ilmuwan dan sejarawan mulai mencari dari merunut asal-usul dari ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini. Hingga mereka mendapatkan kesimpulan bahwa para leluhur kita, jauh sebelum jaman modern sudah mengenal ilmu astrology sebelum mereka mengenal sains saat ini. Patut digaris bawahi, astrologi dan astronomi adalah dua disiplin ilmu yang sangat berbeda.

Mengapa ilmu astrology yang lebih dahulu mereka kenal? Manusia pada zaman dahulu belajar dan mencoba mengerti keadaan alam agar mereka dapat bertahan hidup. Namun karena pengetahuan berlum berkembang jauh, manusia zaman purbakala hanya belajar melalui panca indera mereka. Mereka mencoba mempelajari apa yang ada di dasar bumi, namun sulit untuk menggali. Mempelajari apa saja yang ada sejauh mata memandang, namun sulit untuk menjelajahi. Kemudian mereka mengadah ke langit, dan dengan mudahnya mereka dapat menemukan jawaban dari kesulitan-kesulitan mereka.

Rasi bintang yang dihasilkan oleh ilmu Astrologi

Bintang-bintang di langit memang bukan satu-satunya sumber informasi dari langit yang didapatkan oleh manusia purbakala, planet-planet seperti Venus dan Mars yang dekat dengan bumi juga mempunyai beragam informasi yang bermanfaat. Bahkan penamaan Venus dan Mars sendiri oleh bangsa Yunani kuno merupakan penemuan yang luar biasa saat itu. Memang penemuan adanya planet lain selain bumi baru diketahui setelah ilmu pengetahuan berkembang dan teknologi sudah maju. Namun penamaan benda langit dengan nama dewa-dewi Yunani merupakan bukti bahwa manusia zaman dahulu sudah mengenal ilmu langit.

Piramida Suku Maya yang dibangun berdasarkan Astrologi dan Astronomi

Kembali ke pada informasi oleh bintang-bintang. Manusia jaman purbakala mulai menandai susunan bintang-bintang yang mereka lihat di malam hari. Susunan bintang tersebut kemudian mereka beri nama yang kita kenal saat ini sebagai rasi-rasi bintang.

Saat ini rasi bintang sering digunakan untuk meramalkan kehidupan seseorang. Pada zaman purbakala, rasi bintang juga digunakan untuk meramal, namun lebih sering digunakan untuk meramalkan perubahan iklim. Ramalan perubahan iklim tersebut digunakan untuk menyusun rancangan kegiatan bercocok tanam. Sehingga mereka lebih mendapatkan banyak panen ketika musim bercocok tanamnya tepat. Bahkan rasi bintang pun dapat memberikan informasi arah dan lokasi dimana kita berada. Pada contohnya ketika kita di tengah laut, sejauh mata kita menandang, hanya laut yang dapat kita lihat. Namun ketika pelaut melihat ke langit, terdapat rasi bintang selatan (yang selalu menunjuk ke arah selatan) sehingga pelaut dapat mengetahui arah kemana kapalnya akan berlayar.

Bukan hanya digunakan untuk berlayar dan meramal iklim, namun rasi bintang juga digunakan manusia purbakala untuk membangun tempat-tempat istimewa. Seperti halnya piramida Mesir yang dibangun berdasarkan letak bintang paling terang di langit, hingga Suku Maya yang membangun kuilnya tepat seperti salah satu rasi bintang paling suci menurut mereka.

Kita masih punya banyak pertanyaan tentang alam semesta untuk bintang-bintang.

Sejak zaman purbakala kita sudah mengenal pemanfaatan bintang-bintang. Hingga saat ini pemanfaatan informasi bintang terus dilakukan oleh para ilmuwan. Informasi-informasi yang diberikan oleh bintang-bintang lain diluar tata surya kita dapat menggambarkan planet-planet mirip bumi, bahkan lebih jauh menyingkap kejadian awal mula jagat raya ini. Jejak-jejak tersebut masih terus dicari hingga kini untuk menyibak misteri alam semesta.

Misteri ini masih jauh dari kata terkuak, karena baru kurang dari 1% bagian saja yang telah kita ketahui hingga saat ini. Alam semesta dengan misterinya membuat kita sadar betapa kecilnya kita di tengah-tengah keluasan yang luar biasa. Apalagi dibandingkan dengan Sang Pencipta.

Satu pertanyaan besar bagi para astronom, Apakah kita sendirian di jagat raya ini? Pertanyaan tersebut masih belum menemui titik terang hingga saat ini, dan tidak menutup kemungkinan kita dapat bertanya kepada bintang-bintang yang ada dilangit.