Hah? memang apa hubungannya banjir dengan UN?
Begini nih penjelasannya. Banjir, seperti yang kita ketahui datang secara tak diduga dan sering merugikan banyak orang. Baik di kota maupun di desa, bencana seperti banjir kerap kali terjadi tanpa pandang waktu dan tempat. Tapi banjir juga kadang-kadang memberikan keuntungan bagi sebagian orang. Misalnya para calon wakil rakyat yang tiba-tiba merasa peduli dengan masyarakat di daerah banjir tersebut. Bahkan terkadang iklan produk lokal ikut nangkring di pos-pos pengungsian bencana banjir. Berdasarkan pengalaman saya, ternyata banjir juga berhubungan erat dengan di adakannya Ujian Nasional bagi siswa-siswi se-Indonesia. Apakah itu?
Penjelasan pada paragraf di atas tentang banjir ternyata tidak jauh berbeda dengan penjelasan mengenai UN di paragraf ini. Keduanya sama-sama dapat merugikan banyak pihak. Tetapi keduanya juga ternyata dapat menguntungkan sebagian pihak. Pihak yang dirugikan karena adanya UN tentunya adalah para siswa dan guru-guru. Beban mereka untuk mengajar dan belajar semakin berat. Padahal belajar itu menurut saya bukan beban dan tekanan, tetapi sebuah keinginan. Jika seseorang tidak ingin belajar, maka jangan paksa dia belajar. Karena jika dia dipaksa belajar, pelajaran yang masuk pun akan menjadi sia-sia. Masalah belajar dan mengajar mungkin dijelaskan di tulisan lain. Guru dan siswa disini juga merasa dirugikan apabila hasil dari Ujian Nasional yang mereka laksanakan buruk. Walaupun nilai Ujian Nasional sekarang tidak lagi menjadi patokan utama kelulusan siswa, ternyata tetap saja UN menjadi momok yang menakutkan di antara siswa dan guru. Ini juga mirip dengan bencana banjir yang selalu menjadi ancaman warga yang tinggal di daerah rawan banjir. Daerah rawan banjir seringkali adalah sebuah daerah yang dilupakan oleh pemerintah. Bukan cuma dari segi penataan wilayahnya, namun juga perawatan wilayahnya. Sama seperti sekolah-sekolah yang rawan terkena ketidak lulusan UN, sekolah tersebut seringkali sekolah yang terlupakan oleh pemerintah dari segi fasilitas dan kelayakan belajarnya.
Bicara mengenai dampak buruk dari banjir dan UN memang tidak akan selesai. Karena sampai sekarang kedua istilah tersebut masih di anggap buruk oleh kebanyakan masyarakat di negara kita ini. Tapi bicara mengenai keuntungan, sedikit sekali orang yang bisa berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari kedua kejadian di atas. Pada peristiwa banjir, yang di untungkan adalah para calon wakil rakyat yang mendapatkan kesempatan untuk “tebar pesona” kepada masyarakat. Tapi pada kasus Ujian Nasional, yang mendapatkan keuntungan adalah lembaga-lembaga bimbingan belajar yang sekarang ini sudah menjamur di Indonesia. Bimbel tersebut tidak jarang menjamin siswa bimbingannya bisa lulus UN dengan nilai yang baik, bahkan hingga lulus SNMPTN. Keuntungan yang di raup oleh bimbel-bimbel yang mulai menjamur terkadang disalah gunakan. Pernah suatu kejadian disaat saya sedang menjalani Ujian Nasional saat SMA, teman saya, teman seperjuangan saya mengaku mendapatkan jawaban dari sebuah bimbel untuk soal yang besok akan di ujikan. Luar biasa saya bilang saat itu. Dan saya terkejut, ternyata jawaban dari bimbel tersebut 70% benar, sesuai dengan jawaban saya! saya tidak bermaksud untuk memakai jawaban tersebut, tapi hanya memeriksa apakah jawaban tersebut cuma tipuan belaka, sehingga teman-teman yang mengerjakan UN dengan jawaban tersebut tidak terjebak. Kemudian saya lulus dengan nilai di atas 8 untuk mata pelajaran yang jawabannya mirip dengan jawaban dari sebuah bimbel ternama di Indonesia.
Luar biasa bukan hubungan antara banjir dan UN? saya sendiri sempat terkaget-kaget ketika mendapatkan kata kunci di atas. Banjir maupun Ujian Nasional bisa jadi apapun tergantu seseorang memandangnya dari segi apa. Banjir juga bisa dijadikan cermin bahwa penataan sebuah wilayah itu buruk atau bagus, dan UN bisa jadi cerminan siswa dan guru mengenai kegiatan belajar-mengajar mereka selama berada di sekolah.





